“Ternyata Metode Belajar dengan Cara Menghafal Itu Salah!”

Setidaknya ada 10 sampai 12 mata pelajaran yang harus dipelajari oleh siswa dalam setiap minggunya. Dalam setiap mata pelajaran siswa diharuskan untuk menghafal berbagai konsep sekaligus, otak dipaksa untuk terus mengingat, yang kemudian memunculkan realita bahwa anak-anak kita kemungkinan telah mengalami kejenuhan yang luar biasa.

Banyak orang memahami, bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah proses membaca dan menghafal. Pernah tidak kita berpikir dan bertanya, Untuk apa membiarkan anak kita menghafal seperti itu ?”. Metode menghafal bukanlah cara yang bagus untuk perkembangan otak, menghafal akan menjadikan otak lebih bekerja keras untuk mengingat. Yaa… Mengingat dan mengingat, dan melukai otak.

Otak kita memiliki keterbatasan direktori untuk menyimpan berbagai hal tertentu yang akan membuat memori otak jenuh dan menjadikan otak lebih memfokuskan kepada kekuatan ingatan dibanding kekuatan untuk berpikir. Bagian otak kanan dan kiri kita berpengaruh pada aktivitas mengingat dan berpikir. Mengingat dan berpikir adalah sesuatu yang berbeda namun sama-sama diperlukan dalam proses menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bandingkan mana yang lebih penting antara mengingat dan berpikir, maka jawaban yang paling tepat adalah berpikir.

Dalam proses belajar yang lebih mengutamakan menghafal, kita mengadopsi istilah “Proses dari yang tidak tahu menjadi tahu”. Sedangkan proses belajar yang lebih mengutamakan cara berpikir, logika dan motorik, kita mengadopsi istilah “Dari yang belum ada menjadi ada (proses berpikir untuk menemukan gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya)”. Seseorang yang mampu menemukan gagasan dan inovasi baru itu lebih dibutuhkan, dibanding seseorang yang hanya menerapkan hafalannya dari sebuah buku . Orang-orang yang berpikir besar meyakini bahwa berpikir dan menemukan gagasan baru jauh lebih penting daripada sekadar meniru gagasan orang lain.

Inilah proses belajar yang sangat dibutuhkan untuk membangun kemajuan bangsa. Memang untuk menemukan suatu karya itu sulit, namun itu jauh lebih bermakna daripada kita hanya sekadar meniru gagasan orang lain. Apa yang sudah kita hafal, biasanya diminta untuk diterapkan. Bukankah itu hanya akan mempertemukan otak dengan jalan buntu akan daya kreasi kita ?. Bukankah itu akan melemahkan kinerja otak dalam berimajinasi, berekspresi dan berkarya?

Sistem pendidikan kita tengah berbenah yang tadinya hanya mengacu pada aspek teoritis dan hafalan, kini berubah menjadi proses pembelajaran yang lebih  menekankan siswa untuk berpikir. Metode pembelajaran seperti ini tentu akan membuka pola pikir siswa menjadi lebih luas dalam berekspresi dan berkreasi.

Pengambilan Pendidikan Moral cukup dari penilaian non tes (observasi, skala sikap, dan sejenisnya) sehingga anak tidak terbebani oleh konsep-konsep yang harus dihafal. “biarkanlah anak-anak kita berpendapat, belajar menelaah kasus, dan tak lagi perlu  menghafal data, fakta, konsep dan sejenisnya”. Tidak perlu lagi ada tes yang sifatnya menguji hafalan. Cukup ada bukti bahwa mereka telah membaca, menyimak, mendengar. Penilaian yang perlu dilakukan hanyalah mengomentari bahan bacaan, agar kemampuan berpikir dan nalarnya betkembang. Untuk Pengetahuan Wawasan, tidak perlu juga ada tes yang sifatnya menguji hafalan. Cukup ada bukti bahwa mereka telah membaca, menyimak, mendengar. Tes tertulis hanya akan membelenggu siswa untuk menghafal isi bacaan, padahal yang diperlukan hanyalah wawasan pengetahuan tentang sebuah fenomena sosial. Sedangkan pada Kemampuan Berbahasa, kita tidak perlu menjadikan anak sebagai ahli bahasa. Pengetahuan grammer/tata bahasa memang penting namun bukan utama. Artinya penilaian tentang pengetahuan grammer/tata bahasa tak perlu diujikan (karena tes hanya akan menjebak siswa pada upaya menghafal) yang penting adalah kemampuan aktif berbahasa baik lisan maupun tulisan.

Perlu ada reformasi dalam sistem penilaian dan penghargaan terhadap kemampuan anak di sekolah. Bahwa Tes bukan satu-satunya alat untuk menilai. Ada ketakutan pada diri kita bahwa anak tidak akan mau belajar jika tidak ada tes/ulangan. Padahal jika kita mau jujur, anak-anak ternyata jauh lebih “enjoy” ketika mereka tengah mempelajari materi pelajaran yang tidak diajarkan di kelas.

Beban psikologis yang dimunculkan dalam pendidikan formal adalah bahwa mereka harus “menghafal” dan ini telah mendatangkan kejenuhan yang justru bertolak belakang dengan apa yang dituntut/diharapkan. Anak lebih terfokus pada bagaimana mendapat nilai yang bagus dari pada menguasai ilmunya, padahal “Pengalaman Belajar jauh lebih penting daripada Hasil Belajar”, bukan?.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *