GURU vs Revolusi Industri 4.0

11 Desember 2018

 

“Apa itu revolusi industri 4.0?”

Revolusi Industri Keempat adalah sebuah kondisi pada abad ke 21 ketika terjadi perubahan besar-besaran di berbagai bidang, lewat perpaduan teknologi yang mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik, digital, dan biologi.

sumber: wikipedia

“Robot-robot Super Pintar Bermunculan”

“Semua yang bergerak terlalu lambat, seringkali ditemukan mati”

Revolusi industri 4.0 ditandai dengan kemunculan komputer super, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neurologi untuk otak manusia. Tenaga hewan dan manusia digantikan dengan kemunculan mesin pintar, kelahirannya menelan banyak korban, banyak perusahaan raksasa mati karenanya.

Di era ini ukuran besar sebuah perusahaan tidak jadi jaminan, kelincahan gerak perusahaanlah yang akan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi gemilang. oleh sebab itu perusahaan harus peka, introspeksi diri, membuka diri untuk tumbuh dan berkembang. Di era ini perusahaan sudah tidak punya pilihan lain selain menerima dan menyesuaikan diri dengan tatanan industri yang ada.

Selayaknya sebuah perusahaan, sebuah sekolah yang memiliki sistem managerial yang hampir sama, sudah seharusnya mulai berbenah diri, perbaikan kurikulum sangat diperlukan, menyambut datangnya sekolah bertaraf internasional di era revolusi industri 4.0. Sekolah harus memberikan layanan dan fasilitas purna untuk guru dan siswa, akses internet tanpa batas, dan mulai mengantisipasi dampak 4.0, seperti yang disampaikan Prof. Prio Suprobo, dosen teknik sipil Institut Teknologi Surabaya, “pendidikan tinggi sudah mengantisipasi dampak 4.0, apakah pendidikan dasar dan menengah sudah?”

“Apakah guru sudah bisa mendidik siswa lewat internet?, apakah bisa memberikan nilai pedagogik melalui internet?”

“Guru harus mampu mengajarkan kepada siswa, belajar menyenangkan menggunakan bahan ajar 4.0”

Menghadapi revolusi industri 4.0, sistem pendidikan harus menyesuaikan dengan kondisi ini, “Guru harus memiliki lima kemampuan , yaitu berpikir kritis, inovatif , kreatif, kemampuan berkomunikasi, kemampuan bekerjasama, dan percaya diri”, demikian disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy. “Kemendikbud akan meredesign kurikulum yang memiliki lima kompetensi”, pernyataan tersebut disampaikan Muhadjir Effendy dalam peringatan Hardiknas 2018.

“Siapkah Kita Sebagai Guru?”

Semua perubahan yang terjadi, zona-zona nyaman yang diciptakan, pada akhirnya akan mudah hilang dari peredaran, tergantikan oleh teknologi dan mesin pintar. Perangkat teknologi canggih akan membanjiri dunia pendidikan, membanjiri sekolah-sekolah kita, membanjiri kelas-kelas kita, tanpa izin tanpa permisi, siapkah?

Suatu hari nanti tidak akan kita temukan whiteboard di dalam kelas-kelas kita, papan tulis digital/smartboard akan menggantikannya, robot-robot pintar melenggang masuk di pelataran sekolah, lalu jika kita tidak berbenah diri, peran guru akan mudah tereduksi.

Kita tidak bisa lari dari era industri 4.0, guru harus mau membuka diri, belajar lebih baik, dan lebih keras, Kehebatan seorang guru adalah pendorong yang kuat bagi kelahiran pribadi-pribadi unggul berkarakter, berkepribadian Indonesia. Guru harus terus berpacu untuk selalu berubah secara paralel tanpa harus kehilangan “sepotong hati”, sebab persoalan mendasar seperti pembentukan karakter, kedisiplinan, membangun semangat nasionalisme, pembentukkan akhlak hanya bisa dilakukan oleh seorang guru.

Tidak ada Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *